ankim

Teknologi & Rekayasa

tkj

Teknologi Informasi & Komunikasi
 

Kepariwisataan

Bisnis & Manajemen

Penulis : Citra Kakambong dan Fadel Muhammad

MEDIA CENTER (03/11/2018) - Gerakan Literasi Sekolah (GLS), SMK Negeri 1 Gorontalo mengusung beberapa program literasi, salah satunya yaitu program membaca 15 menit di awal pembelajaran. Hal ini bertujuan untuk menciptakan budaya baca di kalangan siswa.

Secara umum literasi di sekolah tidak hanya menitikberatkan pada literasi baca saja. Namun, ada jenis literasi lain yang tidak kalah penting yaitu literasi tulis, tetapi literasi ini masih kurang nampak di kalangan siswa. Hal ini dibuktikan oleh minimnya kemampuan menulis siswa di SMK 1 Gorontalo. Padahal sekolah yang terletak di Jalan Ternate, Kota Gorontalo itu memiliki potensi siswa yang mumpuni dan memiliki fasilitas yang baik untuk mencetak calon penulis hebat.

Melihat permasalahan di atas, harusnya kemampuan membaca dikalangan siswa diimbangi dengan kemampuan menulis. Hal itu dapat diwujudkan dengan memunculkan kegiatan literasi yang berhubungan dengan kegiatan menulis, dengan begitu akan ada banyak tulisan kreatif siswa yang dapat menjadi bacaan untuk dikonsumsi siswa lain. Kolaborasi dari dua kegiatan literasi ini tentu akan membuat siswa berpikir kritis, kreatif, dan tentunya positif.

Alangkah baiknya jika tim gerakan literasi sekolah dari sekolah terbesar di provinsi Gorontalo ini me-launching program baru yang tidak kalah menarik, seperti menulis 15 menit di awal pembelajaran. Melalui hal-hal kecil seperti itu, dapat menimbulkan minat bagi para siswa untuk membaca dan menulis, sehingga literasi baca-tulis menjadi seimbang.

Menulis bukanlah hal yang mudah, untuk menulis sebuah bacaan tentu kita harus memiliki ide, gagasan, atau pokok pikiran yang akan kita tuangkan dalam bacaan tersebut. Dari manakah kita mendapat ide dan gagasan tersebut? Tentu banyak sumber yang bisa kita jadikan referensi. Namun, yang menjadi sumber utama dari ide dan gagasan tersebut adalah membaca.

Menurut Irata, “Menjadi seorang penulis tidak harus monoton menulis pengalaman dari sebuah kisah hidup, namun penulis juga harus menyeimbangkan antara pengalaman membaca dan pengalaman nyatanya”. Tutur penulis buku Di antara Dua Sujud, saat menjadi narasumber pada kegiatan bedah buku di SMK 1 Gorontalo.

Literasi baca-tulis adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan, apalagi di zaman yang serba online ini tentu kita dapat menemukan berbagai sarana literasi, seperti buku online, media sosial, dll. Tetapi, banyak di antara remaja sekarang yang salah mengartikan literasi digital secara online. Padahal banyak media yang khusus menyediakan fasilitas untuk membaca dan menulis sesuai dengan alur sebenarnya, dengan begitu literasi digital juga dapat dikolaborasikan dalam gerakan literasi sekolah. Seperti membaca buku online, dan menulis buku, berita, ataupun artikel secara online.

SMK Negeri 1 Gorontalo sebagai sekolah favorit, tentunya ditunjang dengan fasilitas yang baik pula. Program literasi digital yang dikolaborasikan dengan literasi baca-tulis tentu akan menumbuhkan minat baca tulis bagi siswa. Selain itu, media yang menyediakan fasilitas membaca berita online juga memberikan keuntungan kepada pembaca maupun penulisnya. Keuntungan tersebut berupa poin yang dapat ditukar dengan uang atau voucher pulsa. Jadi, alangkah tepat jika saat ini program menulis 15 menit sebelum belajar dikolaborasikan dengan program 15 menit membaca. Setelah itu, siswa juga diharapkan dapat memanfaatkan literasi digital untuk menguatkan kemampuan literasi siswa.


Leave your comments

Post comment as a guest

0

People in this conversation

Load Previous Comments

Pengunjung

We have 52 guests and no members online

Schoolmedia

 

DitpSMK

Kemendikbud

kemendikbud

Pemkot Gorontalo

   ALAMAT
  
   Jalan Ternate, Kota Gorontalo
   Provinsi Gorontalo - 96125
  TELEPON
 

  (0435) 822313-822772

  EMAIL
 

  smkn1gorontalo@yahoo.co.id